SEKOLAH MELAYU ‘TADIKA’ PENDIDIKAN MEMBANGUN KARAKTER GENERASI BANGSA PATANI

     Sekolah Melayu atau Taman Didikan Kanak-kanak yang disingkat (TADIKA) adalah lembaga atau kelompok masyarakat yang menyelenggarakan pendidikan non-formal jenis keagamaan dan kebangsaan.

     Pada asal sekolah Melayu adalah diibaratkan sebagai pusat pengajian al-Quran dan bahasa Melayu di rumah-rumah Tuan Guru yang mengajar al-Quran waktu setelah shalat magrib, kemudian diajarnya tajwid dan bahasa Melayu dengan menggunakan tulisan Jawi (huruf Arab), seperti tulisan Jawi di Negari Melayu Nusantara Indonesia, Malaysia dan Brunei lainnya.

     Sekolah Melayu atau Taman Didikan Kanak-Kanak yang bertujuan untuk memberikan pengajaran dasar-dasar pembelajaran tentang agama, bahasa, budaya, dan keterampilan lainnya sejak usia dini, serta memahami dasar-dasar dinul Islam-Melayu pada anak usia taman kanak-kanak, sekolah dasar atau madrasah ibtidaiyah (SD) atau bahkan yang lebih signifikan lagi bagi memberikan pendidikan dalam membangun karakter anak bangsa Melayu Muslim Patani umumnya.

     Pertumbuhan Taman Didikan Kanak-Kanak (TADIKA), menemukan momentumnya pada tahun 1950-an hingga ke hari ini. Bersumber dari sebuah tulisan artikel, Pustaka mengatakan bahwa sekolah Melayu atau TADIKA (Taman Didikan Kanak-Kanak) masyarakat Melayu Patani telah berdirinya sejak tanggal 27 Oktober 1949, 67 tahun yang lalu.

     TADIKA setara dengan Sekolah Dasar (SD) yang dibentukkan oleh pemerintah Thailand di pertengah abad ke-20, di mana sekolah dasar pemerintah ini kurikulumnya ditekankan pada pemberian dasar-dasar pemahaman nasionalisme Thai-Buddha. Hal ini menjadikan bertentangan dengan realitas hidup dalam seharian masyarakat Melayu Muslim Patani di Thailand bagian selatan yang telah lama kini masih terjajah.

     Sekolah Melayu ini dibentuk awalnya bertujuan untuk memberikan pendidikan kepada anak bangsa supaya dapat menjadi makhluk individu lebih baik serta berguna bagi masyarakat Patani dan umumnya. Kemudian dalam perkembangannya hingga kini yang sebagai anak keturunan memiliki pengetahuan mengakar pada sumber tradisi masyarakat setempat hingga pengetahuan modern saat ini.

     Selain itu, disebabkan pada masa dahulu kerajaan Siam Thailand memaksakan anak-anak Melayu bersekolah dalam sistem persekolahan Siam (sekolah kebangsaan Thai), ia menggunakan bahasa Thai sebagai pengantar serta mengharamkan bercakap Melayu dalam sekolah. Maka peluang untuk anak Melayu belajar agama dan bangsa sangat sedikit.

     Mengenai hal tersebut yang kemudian menyebabkan kepada identitas bangsa Melayu Patani sudah hampir mau menghilangkan ditempuh era kontemporer saat ini. Dikarenakan pemerintah sejak itu, hingga usia sekarang mereka pun masih melaksanakan kebijakan asimilasi terhadap sistem pendidikan, sosial, budaya dan bahasa  agar terlaksana dan mewujud berhasil sebagai menghapuskan kebangsaan Melayu Patani dalam Negara Thailand.

     Sadar kehidupan bermasyarakat, berbangsa tentu generasinya memiliki asas kesadaran, rasa tanggung jawab, bimbingan kehilangan marwah kebangsaan sendiri serta semangat cinta kepada Agama dan Bangsa sangat tinggi. Maka sehubungan hal tersebut di atas, sekolah Melayu atau TADIKA berharap bisa berjalan terus dalam membangun karakter anak bangsa untuk generasi selanjutnya.

*( Penulis Muhammad Awae, Mahasiswa Patani di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora )*

Diperolehi dari sumber - 



 Noor Asshikin Binti Abdul Zaid merupakan sukarelawan yang akan melaksanakan Misi Jelajah Patani pada 6-21 Ogos 2019 sebagai AJK Aktiviti.

Post a Comment

Previous Post Next Post